Total Football 1974: Off The Ball Pressing

Belanda vs Argentina, Piala Dunia 1974. [sumber: flickr]

Belanda vs Argentina, Piala Dunia 1974. [sumber: flickr]

Di era sepakbola modern ini, menurut saya ada 2 filosofi bermain yang cukup menonjol. Dan keduanya saling bertolak belakang. Yaitu filosofi yang dianut oleh Josep ‘Pep’ Guardiola (ball possession) dan satu lagi adalah yang dianut Jose ‘The Happy One’ Mourinho (pragmatis).

Filosofi Pep – yang dulunya adalah mantan pemain Barca – banyak terpengaruh oleh filosofi bermain sepakbola yang dipegang teguh Barcelona. Banyak media saat ini menyebut gaya bermain Barcelona dengan sebutan tiki-taka (tiqui-taca dalam bahasa Spanyol). Istilah ini awalnya ditujukan buat timnas Spanyol. Adalah, alm. Andrés Montes – penyiar TV asal Spanyol –  yang menyebutkannya saat membawakan siaran langsung laga Piala Dunia 2010 antara Spanyol melawan Tunisia.

Namun bila kita berbicara soal gaya bermain Barcelona, maka kita tidak bisa tidak membicarakan peran para meneer asal Belanda, Johan Crujff dan Louis Van Gaal. Karena kedua orang inilah yang sangat berpengaruh dalam menanamkan filosofi sepakbola menyerang a la Belanda, Total Football.

Total Football sendiri adalah filosofi bermain yang diterapkan oleh alm. Rinus Michels, di era ’70-an saat dia membesut klub Ajax dan timnas Belanda. Dalam satu kesempatan, Michels pernah coba menjelaskan apa yang dimaksud dengan Total Football lewat pernyataan berikut:

“I would describe what the journalists call ‘Total Football’, as ‘Pressing Football’. To me, this expression seems to put the emphasis on the type of football I was trying to create with Ajax and with the Dutch national team in the 1974 World Cup. What I wanted to create was a game in which all ten outfield players pressed forward all the time — even when we didn’t have the ball!”

Jadi singkatnya, Total Football adalah sepakbola menekan, dengan atau tanpa bola. Dan ini sesuai dengan apa yang diperagakan Barcelona – sebelum era Gerardo ‘Tata’ Martino – dimana para pemainnya akan selalu bergerak. Saat tim menguasai bola, para pemain Barca akan bergerak untuk menciptakan ruang buat rekan lainnya. Bahkan saat kehilangan bola, pemain terdekat dengan lawan yang sedang menguasai bola akan menjadi orang pertama yang merebut bola.

Namun, menurut saya gaya menekan tanpa bola Barcelona berbeda dengan yang dilakukan timnas Belanda 1974. 

Cuplikan video berikut yang diambil dari laga Belanda melawan Argentina di Piala Dunia 1974, menurut saya sangat baik dalam menggambarkan maksud menekan tanpa bola seperti yang coba dijelaskan Michels tadi. Belanda bermain ibarat pasukan Sparta yang dipimpin oleh sang raja Leonidas. Dalam suatu momen, tercipta tendangan bebas di depan kotak penalti Belanda. Dan hampir seluruh pemain Belanda yang ada turun dan membentuk pagar betis. Saat bola yang ditendang pemain Argentina membentur pagar, seluruh pemain Belanda berlari ke depan dan mencoba memanfaatkan kelemahan lawan yang telah jauh meninggalkan wilayahnya sendiri.

Cara menekan seperti ini juga mengingatkan saya pada skuad Atletico Bilbao saat dipimpin entrenador asal Argentina, Marcelo Bielsa.

Setelah melihat 2 contoh diatas, maka bisa saya simpulkan bahwa di era sepakbola modern ini, belum ada lagi tim yang mampu bermain dengan filosofi Total Football sebaik yang dilakukan timnas Belanda di era ’70-an. Walaupun Barcelona mencoba untuk ‘menghidupkannya’ kembali, namun cara mereka melakukan tekanan ke lawan saat kehilangan bola belumlah sekuat yang diperagakan timnas Belanda di Piala Dunia 1974. Bahkan belum mendekati level intensitas pressing klub Atletic Bilbao di era Bielsa.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda punya pendapat lain? 

Related Posts
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Beberapa hari yang lalu kami menghadiri sebuah seminar pemasaran bertajuk “Service With A Heart”. Tampil sebagai pembicara adalah Bapak Alex Mulya, praktisi marketing; dan Ibu Noni S.A. Purnomo, Vice President Business Development ...
READ MORE
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Ditulis oleh Adri Zainuddin.Sepakbola, permainan yang dimainkan oleh 22 orang pemain di dalam 1 lapangan. Tambah 1 orang wasit yang dibantu 2 hakim garis. Semua mengejar 1 bola yang sama. ...
READ MORE
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Seiring dengan berakhirnya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita tinggalkan sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta. Penulis-penulis roman sering berkata: Kita tidak bisa memilih kepada ...
READ MORE
Catatan ringan tentang pemanfaatan kelompok suporter sebagai kendaraan politik di Indonesia.Dalam tulisan sebelumnya penulis sudah memaparkan betapa perlunya klub untuk mengelola kelompok suporter mereka. Karena kelompok suporter itu ibarat para ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 1)
"IF YOU HAVE A BODY, YOU ARE AN ATHLETE" (Bila anda memiliki tubuh, maka anda adalah seorang atlet) Demikian Bill Bowerman, Nike co-founder, berkata. Kalimat ini berangkat dari observasi Bowerman - sebagai ...
READ MORE
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti? Apa itu ‘The Game Theory’? Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan ...
READ MORE
Selamat Tahun Baru 2014!
Tak terasa kita saat ini sudah berada di tahun yang baru, 2014. 365 hari telah bersama kita lewati di tahun 2013. Dan semoga kita semua mendapatkan pembelajaran dan bisa menjadi ...
READ MORE
Keberadaan 18 Klub ISL Musim 2012-2013 di Dunia Maya dan Media Sosial
Selamat datang Indonesia Super League musim 2013-2014! Kasta sepakbola tertinggi di tanah air kembali dengan optimisme dan format baru. Bila musim 2012-2013 ISL diselenggarakan dengan jumlah peserta 18 klub, maka ...
READ MORE
Kabut Peperangan Yang Menutupi Old Trafford.
[image source: flickr/tcountryfan] Oksigen semakin menipis, dan bernafas pun, menjadi suatu hal yang sulit. Suara gemuruh memekakkan telinga. Genderang mulai ditabuh dan kabut peperangan semakin tebal. Semua yang berada di sana ...
READ MORE
Naturalisasi, Benarkah Yang Terbaik?
2 orang pemuda blasteran Belanda-Indonesia, Diego Michiels dan Ruben Wuarbanaran, baru saja memperoleh kewarganegaraan Indonesia mereka setelah lulus dalam proses naturalisasi di kantor Kemenkumham beberapa hari yang lalu. Mereka berdua ...
READ MORE
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Kelompok Suporter Sebagai Kendaraan Politik
Nike Brand Activation (Part 1)
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Selamat Tahun Baru 2014!
Keberadaan 18 Klub ISL Musim 2012-2013 di Dunia
Kabut Peperangan Yang Menutupi Old Trafford.
Naturalisasi, Benarkah Yang Terbaik?