Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia

Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis tentang kondisi sepakbola Indonesia. 

Di suatu siang usai jam sekolah, di era Orde baru,  Saya dan beberapa teman SD Saya melihat rombongan pendukung salah satu partai politik melintas di jalanan depan sekolah kami. Puluhan motor dan belasan mobil juga bus nampak sangat meriah dengan beragam atribut seperti spanduk dan bendera parpol. Para manusianya pun nampak tak mau kalah. Mereka semua secara seragam memakai kaos berlambangkan parpol yang mereka dukung. Sampai-sampai ada yang rela sekujur tubuhnya dicat dengan warna khas parpol tersebut! Bagi Saya (saat itu) adalah pemandangan yang sangat luar biasa. Melihat banyak orang dalam keadaan euforia, mau tak mau membuat Saya (saat itu) ikut larut dalam euforia juga.

Malam harinya, Saya ceritakan pemandangan tadi siang kepada Ayah. Ayah Saya tersenyum. “Kamu gak ikutan pawainya?”. Saya menjawab singkat,”Gak”. “Kenapa”, Ayah bertanya balik. “Gak berani. Abis gak punya kaos seragamnya”, jawab Saya. Lalu Ayah Saya kembali tersenyum tanpa melanjutkan pembicaraan. 

10 tahun kemudian Saya baru mengetahui bahwa semua atribut dan kaos yang dipakai para peserta pawai itu ternyata adalah pemberian parpol yang bersangkutan. Bahkan mereka semua dibayar karena mau ikutan pawai itu. Akhirnya Saya paham makna senyum Ayah 10 tahun yang lalu.

Kini keberadaan parpol tak hanya sebatas pada pawai di jalanan saat masa kampanye. Tapi juga di layar TV di rumah kita. Setiap hari kita dijejali mereka lewat kemunculan para politisinya yang berlomba-lomba untuk (seakan-akan) mejadi yang terbaik. Berlomba-lomba untuk (seakan-akan) menjadi yang paling pintar. Mereka berbicara soal kasus korupsi dan penegakkan hukum, naiknya harga bawang, juga sepakbola. Ya, sepakbola. Olahraga kita semua.

2 manajer timnas terakhir adalah politisi parpol. Belum lagi beberapa pengurus di PSSI dan klub. Keberadaan politik dalam sepakbola pun coba dijelaskan oleh Bambang Pamungkas seperti yang disebutkannya dalam wawancara dengan Kompas. Berikut Saya coba kutip ulang isi wawancara itu:

Kompas: Dari pengalaman Anda menjadi pemain, apakah Anda merasakan betul, sepak bola menjadi barang mainan politik dan kepentingan kelompok bisnis tertentu?

Bepe: Jujur saya katakan bahwa saya lebih nyaman bermain sepak bola 15 tahun yang lalu, ketika saya masih yunior, ketika apa yang ada di kepala saya hanya bermain, bermain, dan bermain.

Dengan berjalannya waktu, saya semakin banyak tahu tentang bagaimana sepak bola dijalankan, bagaimana regulasi yang dijalankan, bagaimana kinerja yang mengurus sepak bola. Di situ saya jadi kehilangan respek. Tidak semua pengurus sepak bola Indonesia pure peduli mengurus sepak bola Indonesia.

Saya tidak bisa menutup mata soal itu. Saya katakan, tidak semua memang. Tapi, ada orang-orang yang tidak pure dalam mengurus sepak bola.

Kompas: Termasuk ada kepentingan politik maksudnya?

Bepe: Seperti itu tentunya. Di negara lain, mungkin juga seperti itu, tetapi tidak mencampuri esensi dari sepak bola itu sendiri. Di Indonesia, esensi itu sudah hilang. Seperti saya katakan tadi, sepak bola dimainkan untuk menjalin persaudaraan, persahabatan, persatuan. Maka di sana ada rasa saling menghargai. Nah, esensi saling menghargai itu yang hilang di Indonesia karena tidak ada saling menghargai di situ.

Di negeri ini sepak bola sudah tidak lagi menjadi olahraga masyarakat. Sepak bola sudah menjadi olahraga para elite pengurus, yang mengatasnamakan rasa cinta terhadap sepak bola sebagai topeng, di balik segala hal bermuatan politik di belakangnya. Mereka tidak lagi memikirkan akibat yang akan diterima oleh para pelaku di lapangan dan juga masyarakat yang benar-benar mencintai olahraga paling populer di dunia ini.

Saya sependapat dengan Bambang Pamungkas bahwa para pengurus yang juga politisi tidak pernah bekerja atas nama rasa cinta terhadap sepakbola. Apa yang mereka lakukan adalah atas nama kekuasaan untuk golongan mereka sendiri.

‘Kebaikan’ apapun yang parpol coba tawarkan bakal berujung pada meraih kekuasaan untuk golongan mereka sendiri. Bukan untuk yang lain. Dan kita semua bak pelacur yang bisa mereka beli dengan kaos, uang dan jabatan untuk memuaskan mereka.

Sudah saatnya kita semua melawan dan berseru “TENDANG POLITISI DARI SEPAKBOLA INDONESIA”.

Related Posts
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Ditulis oleh Adri Zainuddin.Sepakbola, permainan yang dimainkan oleh 22 orang pemain di dalam 1 lapangan. Tambah 1 orang wasit yang dibantu 2 hakim garis. Semua mengejar 1 bola yang sama. ...
READ MORE
Mengelola Komunitas Suporter
Sebuah catatan ringan betapa pentingnya kelompok suporter bagi sebuah klub dari segi marketing.Bagi penggemar otomotif, khususnya kendaraan beroda dua, kegiatan touring atau berkendara bersama-sama teman ke sebuah tempat yang belum ...
READ MORE
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti? Apa itu ‘The Game Theory’? Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 2 – Final)
 Ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang berjudul Nike Brand Activation (Part 1).Kampanye ‘Scorpion KO’ adalah salah satu dari Integrated Marketing Communicaitons (IMC) Nike yang melibatkan konsumen berinteraksi di ...
READ MORE
Jawaban apa yang akan anda berikan bila ditanya fungsi dari sebuah stadion sepakbola? Kita semua pasti sepakat bila disebut stadion adalah tempat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Tapi tahukah anda bahwa ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 1)
"IF YOU HAVE A BODY, YOU ARE AN ATHLETE"(Bila anda memiliki tubuh, maka anda adalah seorang atlet)Demikian Bill Bowerman, Nike co-founder, berkata. Kalimat ini berangkat dari observasi Bowerman - sebagai ...
READ MORE
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Seiring dengan berakhirnya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita tinggalkan sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta. Penulis-penulis roman sering berkata: Kita tidak bisa memilih kepada ...
READ MORE
SELAMAT TAHUN BARU 2012!Begitu isi pesan singkat yang kita semua terima beberapa hari terakhir ini. Berpuluh pesan singkat masuk ke ponsel-pintar ini dalam hitungan menit di malam pergantian tahun. Beragam ...
READ MORE
Perhelatan final sepakbola SEA Games semalam meninggalkan kesedihan yang teramat mendalam. 2 pendukung timnas tewas terinjak penonton lain saat hendak masuk ke dalam stadion Gelora Bung Karno.Untung tak dapat diraih, ...
READ MORE
Catatan ringan tentang pemanfaatan kelompok suporter sebagai kendaraan politik di Indonesia.Dalam tulisan sebelumnya penulis sudah memaparkan betapa perlunya klub untuk mengelola kelompok suporter mereka. Karena kelompok suporter itu ibarat para ...
READ MORE
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Mengelola Komunitas Suporter
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Nike Brand Activation (Part 2 – Final)
KEMANA HILANGNYA RASA AMAN ITU?
Nike Brand Activation (Part 1)
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Catatan Awal Tahun: 2011 Tahunnya Dualisme & Resolusi
Tragedi GBK.
Kelompok Suporter Sebagai Kendaraan Politik