Sepakbola Ini Tak Masuk Akal

image

Ditulis oleh Adri Zainuddin.

Sepakbola, permainan yang dimainkan oleh 22 orang pemain di dalam 1 lapangan. Tambah 1 orang wasit yang dibantu 2 hakim garis. Semua mengejar 1 bola yang sama. Gila. Dan lebih gilanya lagi, kita yang menonton mereka, memuja semua itu bagaikan sebuah kepercayaan. Tak ada bedanya kita yang melakukan ritual itu di dalam stadion, dari layar televisi atau mendengarkan ‘khotbah’ komentator dari nyaringnya suara radio, tak ada penggemar sepakbola yang tak terhipnotis dan terbawa suasana permainan si bola sepak.

Musim sepakbola sudah mulai bergulir, dan inilah saat-saat dimana ketika seseorang dengan terburu-buru berhenti beraktifitas – menembus kemacetan edan di akhir minggu untuk nobar di kafe terdekat – dan menemukan pelarian dari kejenuhan dunia yang dijalaninya sehari-hari. Ketika mereka sudah memasuki dunia sepakbola, tak ada lagi yang lebih penting dari menikmati jalannya pertandingan, ditemani oleh minuman ringan dan cemilan favorit.

“Menonton bola sampai segitunya,” suka terlontar dari orang awam ketika melihat seorang penggila bola begitu terhisap ke dalam pertandingan yang menampilkan klub kesayangan mereka. Wahai orang awam, saya katakan, Anda tak perlu bingung. Ya memang ‘segitu’-nya. Inilah perasaan sureal yang datang dari menyaksikan sepakbola. Sebuah perasaan hebat di luar nalar yang membuat kita terus menunggu. Minggu ke minggu. Dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya..

Andai Salvador Dali, seorang seniman surealis terkenal, menyukai sebuah olahraga dia pasti akan jatuh cinta dengan sepakbola karena dipenuhi adegan yang tak bisa diterima akal sehat, baik di dalam dan di luar lapangan.

Jika dia mempunyai sebuah tim favorit, mungkin saja dia akan memilih Barcelona sebagai klub favoritnya. Permainan tiki-taka yang mereka mainkan adalah karya sureal yang bisa disandingkan dengan lukisan jam melelehnya. Dan Messi, tentu saja jadi fokus sentral karya seni itu, sang jerapah bersayap yang tengah terbakar di udara. Tim nasional Brasil bisa jadi alternatif tim favoritnya, yang mempunyai reputasi terbaik dunia bahkan jika secara statistik itu tak benar. Diangkatnya Piala Dunia untuk ke-5 kalinya oleh Brazil pun bisa jadi sebuah tema yang layak diangkat sebagai salah satu objek lukisannya.

Dali pun, saya yakin, bisa terkagum-kagum jika ditunjukkan lukisan yang menangkap sebuah kejadian sepakbola akhir-akhir ini; seperti sebuah pertandingan yang dimainkan secara dramatis oleh Manchester City dan Queens Park Rangers di penghujung English Premier League musim 2011-2012 lalu, hingga menit-menit terakhir. Sebuah gelar juara untuk City, diraih untuk pertama kalinya dengan selisih gol. Atau di tahun 2005, ketika sebuah tim dari kota Milan – yang unggul dengan skor nyaman 3-0 dan tampaknya akan dengan mudah menambah koleksi juara benua eropa mereka – akhirnya harus mencium kanvas yang terbuat dari rumput hijau karena tim merah dari sudut Liverpool memenangkannya dengan cara yang spektakuler. Gila.

Kegilaan dan surealisme sepakbola tak hanya hadir di dalam lapangan namun juga di luar. Contohnya ketika seseorang pemain yang dielukan dan dianggap seperti santo yang hadir untuk membawa kemenangan, jatuh dari singgasananya dan dikejar-kejar seperti Raja Louis XVI karena banyak yang ingin memenggal kepalanya.  Terdengar mustahil? Coba tanyakan itu pada David Beckham dan lihat apakah dia akan menjawab “mustahil” dengan sempilan sarkasme khas Inggris yang terkenal itu. Dia-lah yang harus menerima konsekuensi di dalam lapangan ketika kakinya secara refleks menendang Diego Simeone. Sebuah kartu merah terbang dari kantong wasit dan jatuh tepat di hidung Becks. Inggris pun harus bermain dengan 10 orang hingga akhirnya kalah. 

 Becks pun harus menerima konsekuensinya, di luar lapangan. Efek riaknya semakin membesar dan menghantam telak daratan yang mengaku sebagai asal datangnya sepakbola, sampai titik dimana seonggok boneka Beckham ditemukan tergantung di sebuah tiang listrik di jalanan umum. Inilah sepakbola, dimana seseorang bisa dianggap setengah dewa dalam satu pertandingan dan dicap sebagai pemain terburuk sepanjang masa yang pernah dimiliki Inggris di pertandingan berikutnya. Dan kembali dipuja sebagai setengah dewa ketika tendangan bebasnya meloloskan mereka ke piala dunia. Orang-orang Inggris ini memang sudah gila.

 Tak hanya di daratan britania, kegilaan dalam sepakbola adalah epidemic dunia di mana tak hanya seorang pemain, tapi juga sebuah klub bisa mengalami fase surealnya, bahkan bila dianggap tak mungkin. Boca Juniors dan River Plate adalah dua klub dengan rivalitas paling terkenal di Argentina. Gaungnya terasa hingga Eropa, bahkan Asia. Ketika River Plate terdegradasi dan turun kasta ke level yang lebih rendah dari Boca, banyak yang mencubit dirinya sendiri untuk melihat apakah itu kenyataan atau hanya imajinasi saja. Saya rasa, paling tidak, ada satu orang fans River Plate yang badannya habis karena mencubiti dirinya sendiri.

Situasi yang sureal seperti itu tak bisa dijelaskan secara rasional dengan fakta dan statistik. Oke, mungkin bisa dijabarkan dan dicoba dipahami sampai titik tertentu. Namun, saya yakin Anda pernah berada di dalam skenario ini. Ketika sebuah tim yang Anda jagokan kalah secara menyakitkan dari rival bebuyutan, hal pertama yang Anda lakukan adalah menganalisis pertandingan tersebut.

“Ah, si A tadi terlalu lemah menempel penyerang lawan!”

“Bukan! Itu karena si manager tak memasukkan si B setelah babak kedua!”

Adu analisis ini terjadi sesaat setelah peluit panjang dibunyikan wasit dan berlanjut hingga ayam jantan berkokok merdu. Namun setelah perdebatan yang mengadu fakta dan statistik itu selesai (dan biasanya berakhir tanpa mufakat) Anda akan menangis tersedu-sedu dan menendang kaleng soda kosong yang pertama Anda temui ketika berjalan lesu pulang ke rumah.

Bisa jadi, perasaan kalah atau menang inilah yang memberikan surealisme dalam sepakbola kedua bilah mata pisaunya. Sebuah hal yang bisa menginspirasi atau justru bisa memicu kegilaan akut. Bill Shankly pernah berkata “Sepakbola bukan soal hidup dan mati. Ini lebih dari itu.” Kata-kata yang tak terbantahkan karena banyaknya kejadian yang merefleksikan statement itu. Dari mulai tragedi yang dialami oleh Manchester United dalam Munich Disaster di tahun 58, di mana kematian 8 pemain inti mereka menginspirasi pemain lain yang selamat, seperti Bobby Charlton, untuk terus bermain dan memenangkan gelar juara eropa. Juga tragedi yang dialami oleh Liverpool, ketika tahun 1989 di Hillsborough, 96 fans mereka kehilangan nyawa. Klub serta para pemain Liverpool terus mengenang kejadian ini untuk terus memacu mereka di lapangan.

Namun, di sisi lain ada kejadian seperti terbunuhnya Andres Escobar, pemain Kolombia, di tanah kelahirannya sendiri karena menggelontorkan sebuah own goal di piala dunia 1994 di Amerika Serikat. Tak ada yang percaya ketika pembunuhan itu terjadi, karena hal tersebut sungguh sureal. Seolah-olah itu bukan kenyataan. Tapi itu memang benar-benar terjadi.

Sepakbola adalah opium bagi para penggemarnya. Adiktif, dan membuat Anda terkadang kehilangan akal sehat selama 90 menit, plus injury time. Ketika Anda telah memilih warna candu – apa pun warna yang Anda pilih, mau itu putih, merah, biru, hijau, hitam, merah-hitam, hitam-biru, kuning, hingga broken white dan fuscia – Anda akan terus berada di bawah pengaruh sepakbola. Ada yang saking gilanya terhadap sebuah warna, itu membutakan mereka dan pada akhirnya menjadi tak terkontrol. Namun, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, pedang bermata dua mempunyai dua sisi.

Bayangkan momen ini. Anda berada di dalam sebuah stadion di pertandingan final terhebat sepanjang masa dan tim kesayangan Anda sedang bertarung melawan rival terberat mereka. Pertandingan berjalan seimbang, sama-sama saling serang. Tim kesayangan Anda mencetak gol duluan! Namun selang satu menit, justru tim Anda kebobolan. Anda dibawa ke dalam sebuah roller coaster perasaan yang tadinya terangkat karena kegembiraan, dan meluncur dengan cepat ke bawah di menit berikutnya. Kini perasaan cemas mulai datang dan Anda mulai menjadikan semua kuku di jari-jari Anda sebagai cemilan. Pertandingan sudah memasuki menit ke 91 sekarang. Stoppage Time.

Tiba-tiba, pemain sayap favorit Anda merebut bola liar dan sebuah counter attack terjadi. Dia berlari kencang di sisi kiri, menyusuri garis pinggir lapangan sementara bek lawan terengah-engah mengejarnya. Satu bek terlewati. Dua bek. Kemudian tiga, dilewatinya semua. Dia menengok ke atas dan mulai meluncurkan sebuah umpan silang tajam ke jantung kotak penalti. “AAAHH!!!” Anda berteriak, kemungkinan juga mengeluarkan sumpah serapah yang tak bisa saya tulis di sini, ketika umpan itu tidak menemui satu orang pun di dalam kotak penalti.

Kiper lawan memukul bola dengan kepalan tangannya, tapi sayangnya bola hanya tersapu seadanya dan akhirnya bola jatuh di depan kotak penalti. Striker tim Anda, seorang poacher sejati yang sepanjang pertandingan bermain tanpa juntrungan, entah bagaimana sekarang berada tepat di mana dia seharusnya berada. Dengan satu gerakan menyapu, seolah sudah dikoregrafikan sebelumnya, dia memvoli bola muntah itu dengan tendangan geledek yang tak mungkin berasal dari dunia ini. Bola meluncur dari kakinya. 1 meter, 5 meter, 10 meter, 15 meter mendekati gawang. Anda mulai mengangkat tangan Anda. Dan ketika kiper lawan tak bisa menangkapnya, dan bola meluncur ke belakang jaring, Anda merasakan sesuatu yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Dunia serasa tak nyata, karena kenyataan tak mungkin terasa seindah itu.

Kemungkinan besar, itu adalah perasaan di luar batas sadar yang hanya mungkin datang dari permainan sepakbola ketika dia mulai melukis sebuah karya sureal yang tak bisa dijelaskan, dan tak mungkin dirasionalkan. Tak masuk logika. Mungkin, kita semua telah kehilangan kewarasan karena menonton bola. Tapi sedikit gila bola, tak pernah ada salahnya.

Info penulis: Adri Zaninuddin adalah seorang penulis naskah iklan. Pendukung MU sejati. Bisa diikuti di akun twitter @adrizainuddin, facebook: https://www.facebook.com/adri.zainuddin.3

Related Posts
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Seiring dengan berakhirnya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita tinggalkan sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta. Penulis-penulis roman sering berkata: Kita tidak bisa memilih kepada ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 2 – Final)
 Ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang berjudul Nike Brand Activation (Part 1).Kampanye ‘Scorpion KO’ adalah salah satu dari Integrated Marketing Communicaitons (IMC) Nike yang melibatkan konsumen berinteraksi di ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 1)
"IF YOU HAVE A BODY, YOU ARE AN ATHLETE"(Bila anda memiliki tubuh, maka anda adalah seorang atlet)Demikian Bill Bowerman, Nike co-founder, berkata. Kalimat ini berangkat dari observasi Bowerman - sebagai ...
READ MORE
Mengelola Komunitas Suporter
Sebuah catatan ringan betapa pentingnya kelompok suporter bagi sebuah klub dari segi marketing.Bagi penggemar otomotif, khususnya kendaraan beroda dua, kegiatan touring atau berkendara bersama-sama teman ke sebuah tempat yang belum ...
READ MORE
Perhelatan final sepakbola SEA Games semalam meninggalkan kesedihan yang teramat mendalam. 2 pendukung timnas tewas terinjak penonton lain saat hendak masuk ke dalam stadion Gelora Bung Karno.Untung tak dapat diraih, ...
READ MORE
Catatan ringan tentang pemanfaatan kelompok suporter sebagai kendaraan politik di Indonesia.Dalam tulisan sebelumnya penulis sudah memaparkan betapa perlunya klub untuk mengelola kelompok suporter mereka. Karena kelompok suporter itu ibarat para ...
READ MORE
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti? Apa itu ‘The Game Theory’? Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan ...
READ MORE
SELAMAT TAHUN BARU 2012!Begitu isi pesan singkat yang kita semua terima beberapa hari terakhir ini. Berpuluh pesan singkat masuk ke ponsel-pintar ini dalam hitungan menit di malam pergantian tahun. Beragam ...
READ MORE
Jawaban apa yang akan anda berikan bila ditanya fungsi dari sebuah stadion sepakbola? Kita semua pasti sepakat bila disebut stadion adalah tempat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Tapi tahukah anda bahwa ...
READ MORE
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis tentang kondisi sepakbola Indonesia. Di suatu siang usai jam sekolah, di era Orde baru,  Saya dan beberapa teman SD Saya melihat rombongan pendukung salah satu ...
READ MORE
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Nike Brand Activation (Part 2 – Final)
Nike Brand Activation (Part 1)
Mengelola Komunitas Suporter
Tragedi GBK.
Kelompok Suporter Sebagai Kendaraan Politik
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Catatan Awal Tahun: 2011 Tahunnya Dualisme & Resolusi
KEMANA HILANGNYA RASA AMAN ITU?
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia