Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti

Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti?

Apa itu ‘The Game Theory’?

Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan bahwa setahun dari sekarang Presiden Mesir Hosni Mubarak bakal jatuh dari tampuk kekuasaannya. 2 tahun sebelumnya, di bulan Februari 2008, dia memperkirakan bahwa Presiden Pakistan Pervez Musharraf bakal meninggalkan posisinya di akhir musim panas.

Semua yang dia katakan diatas menjadi kenyataan. Saat semua negara barat bertanya apakah Iran memiliki bom nuklir, Bruce mengklaim dia punya jawabannya. Di tahun 2009, Bruce menyampaikan bahwa nanti di tahun 2010, Iran bakal mencoba untuk membuatnya namun takkan berlanjut. Terbukti hingga kini negara-negara barat tak bisa membuktikan kepemilikan bom nuklir oleh Iran.

Sungguh menarik melihat bagaimana seorang akademisi bergelar profesor berusia 66 tahun ini mampun memprediksi apa yang bakal terjadi di masa akan datang. Bagaimana dia bisa melakukannya? Apakah bola kaca membantunya melihat masa depan?

Ternyata yang dilakukan Bruce adalah dengan mengembangkan sebuah model analisa yang disebut ‘The Game Theory Model’. Model analisa ini mampu memprediksikan apa yang bakal terjadi di masa akan datang. Bagaimana model ciptaan Bruce ini bekerja? Pada dasarnya aplikasi ini bekerja dengan mengolah semua informasi yang ada. Misal: dalam mencari jawaban atas pertanyaan apakah Iran memiliki bom nuklir atau tidak, dia memasukkan semua informasi yang berhubungan dengan Iran. Mulai dari nama-nama tokoh berpengaruh di Iran, kelompok radikal, partai politik hingga Dewan Keamanan PBB yang dikenal sebagai kepanjangan Amerika Serikat dan sekutunya dalam memantau Iran. Kemudian Bruce memberikan penilaian atas nama-nama tadi. Penilaian ini mewakili ‘seberapa yakin’ tiap nama atas keberadaan bom nuklir di Iran. Dengan skala 0-200 – semakin kecil angka menunjukkan semakin kecil kemungkinan Iran melakukan uji senjata nuklir. Begitu sebaliknya.

Hasil akhir yang didapat dari model analisa Bruce adalah angka 118. Dan menurut dia angka sebesar ini tidak cukup besar untuk menunjukkan kemungkinan Iran bakal menjadi negara pengembang senjata nuklir. Walaupun kelompok garis keras di Iran mengharapkan adanya uji senjata nuklir dan bisa saja pemerintah menurutinya di awal, namun hal ini takkan berlanjut ke tingkat lebih lanjut.

Bruce sudah sering diminta lembaga investigasi seperti CIA untuk membantu mereka. Bahkan lembaga moneter hingga beberapa pemimpin di dunia sudah meminta bantuannya sebagai konsultan dalam membantu mereka untuk memprediksi masa depan terutama yang berhubungan dengan politik dan ekonomi.

Pentingnya Mempelajari Calon Lawan Dan Berpikir Cepat Di Lapangan

Kemudian terlintas sebuah pertanyaan di kepala saya. Apakah model analisanya mampu membantu seorang kiper dalam menebak sebuah tendangan penalti?

Kenapa tendangan penalti yang muncul di kepala saya? Alasannya sederhana. Tak ada situasi yang lebih menegangkan dan dipenuhi ketidakpastian bagi seorang kiper selain tendangan penalti. 1 lawan 1. Seorang kiper harus berhadapan seorang diri, tanpa bantuan siapapun, untuk menjaga gawangnya – selebar 7 meter dan tingginya sekitar 2.5 meter. Apakah saya harus melompat ke kiri atau ke kanan? Atau malahan saya harus berdiri saja di tengah? Serba tak pasti.

Bila sebuah tim mendapatkan sebuah tendangan penalti, maka pendukung tim tersebut bakal menyambutnya dengan suka cita. Mereka sudah merasa bahwa gol bakal terjadi. Hal sebaliknya buat pendukung tim si kiper. Mereka merasa bahwa gawang tim mereka sudah pasti bakal bobol. Dan hanya mukjizat dan kemampuan sang kiper dalam menebak arah bola yang mampu menggagalkan sebuah gol.

Menebak. Benarkah ini yang terjadi seringkali? Jawabannya tidak. Setidaknya itu yang ditunjukkan tim Jerman saat melawan Argentina di perempat final Piala Dunia 2006. Pertandingan harus diputuskan melalui drama adu penalti. Tak banyak yang mengetahui bahwa federasi sepakbola Jerman memiliki (saat itu) database sekitar 13.000 tendangan penalti. Termasuk tendangan penalti pemain timnas Argentina. Dan saat jelang pertandingan, pelatih kiper timnas Jerman saat itu Andreas Kopke telah mencatat tendensi beberapa algojo penalti Argentina. Riquelme, ke kiri. Crespo, lari jauh/ke kanan, lari pendek/ke kiri. Heinze, kiri rendah. Dan masih banyak lagi. Semua ini dia catat diatas sebuah sobekan kertas, lalu dia selipkan di kaos kaki Jens Lehman.

Hampir semua tendangan penalti Argentina berhasil digagalkan Lehman berkat kertas contekan tadi. Pada saat keadaan 4-2, Cambiasso menjadi giliran berikutnya. Lehman berusaha mencari nama Cambiasso di kertas contekan, namun ternyata tak ada. Lehman kemudian berhasil menggagalkan tendangan Cambiasso. Apakah Lehman menebak arah tendangan Cambiasso? Bisa jadi. Tapi kertas contekan Kopke telah sangat membantu. Dan bukan tak mungkin dalam keadaan seperti itu, kertas tersebut telah membantu Lehman dalam membuat analisa apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Cerita lain yang hampir sama dialami Chelsea saat berlaga di final Liga Champions 2008 di Moskow melawan MU. Pertandingan ini juga harus diputuskan lewat tendangan penalti. Pelatih Chelsea saat itu, Avram Grant, adalah sahabat seorang ahli ekonomi bernama Ignacio Palacio-Huerta. Huerta pernah membuat sebuah makalah tentang bagaimana sebuah penalti dilakukan. Dalam makalanya tersebut, Huerta melakukan banyak riset seputar tendangan penalti. Dan salah satunya adalah bagaiman MU menghadapi tendangan penalti. Grant akhirnya meminta hasil riset tersebut dan ada 4 poin penting didalamnya:

1. Van der Sar cenderung lompat ke sisi alami penendangnya. Bila penendang adalah kidal maka VDS akan melompat ke sisi kirinya. Begitu sebaliknya. Oleh karena itu para penendang kidal Chelsea diminta untuk menendang ke arah kanan VDS, begitu juga para penendang kaki kanan Chelsea.

2. Kebanyakan tendangan penalti yang berhasil digagalkan VDS adalah tendangan setinggi pinggang. Oleh karena itu semua penendang Chelsea diminta untuk menendang datar atau sekalian tinggi.

3. CR7 seringkali berhenti sebelum menendang. 85% bakal menendang kearah kanan kiper, bila dia berhenti.

4. Tim yang memenangkan undian haruslah mengambil kesempatan pertama menendang. Karena 60% tim yang menendang lebih dulu bakal memenangkan adu penalti.

Yang terjadi selanjutnya saat adu penalti di Moskow adalah MU melakukan tendangan penalti lebih dulu, karena mereka memenangkan undian koin. CR7 gagal dalam penaltinya. Terbukti dia berhenti sebelum menendang, dan Cech diam seperti patung dan bergerak ke arah kanannya. Persis seperti yang disebutkan dalam riset tersebut. Satu-satunya penendang kidal Chelsea yang tidak melakukan seperti riset Huerta adalah Ashley Cole. Namun karena tendangannya cukup keras dan mendatar, VDS tak mampu menangkapnya. Sekalipun dia bergerak ke arah yang benar.

Hingga tahap ini, kubu MU benar-benar tak mengeri apa yang terjadi. Kiper terbaik mereka yang juga terbaik di Eropa saat itu seperti sedang dikerjai. VDS merasa ada yang salah atau Chelsea memang sedang menjalankan sebuah strategi.

Kemudian giliran Anelka. Saat Anelka bersiap, VDS berdiri dibawah gawang dan merentangkan kedua tangannya. Lalu VDS dengan memakai tangan kirinya menunjuk ke posisi kiri, seakan hendak berkata,” Kesitu kamu bakal menendang”. Melihat hal ini Anelka seperti kaget dan merasa harus merubah strateginya. Tanpa disadari VDS, seperti kejadian Lehman diatas, melakukan sesuatu untuk ‘mengubah jalannya pertandingan’. Dalam waktu tak banyak, VDS melakukan analisa atas apa yang sedang terjadi. Bisa jadi analisa VDS adalah: penendang Chelsea sudah tahu apa yang bakal saya lakukan. Berbekal analisanya, VDS coba mengintimidasi Anelka. Dan terbukti Anelka mengubah tendangannya. Bertentangan dengan riset Huerta, penendang non-kidal disarankan menendang ke sisi kiri VDS, Anelka menendang ke arah kanan. VDS berhasil mengagalkannya.

Kesialan lain kubu Chelsea dalam adu penalti tersebut adalah saat Terry kepleset dan membuat bola bergerak sedikit melebar dan mengenai tiang. Walau dia sudah benar dalam mengarahkan bola seperti yang ditulis Huerta.

The Game Theory’ Dalam Tendangan Penalti

Apa yang dilakukan Jerman dalam mengumpulkan rekaman 13.000 tendangan penalti dan mempelajarinya adalah bagian dari proses ‘The Game Theory’ sebelum pertandingan. Sama seperti yang dilakukan Bruce, para staff pelatih membuat sebuah analisa dan rekomendasi apa yang harus dilakukan di lapangan berdasarkan data yang ada. Lehman kemudian melakukannya di lapangan. Saat memblok Cambiasso adalah praktek nyata dia berpikir cepat berdasarkan pola penendang penalti Argentina sebelumnya.

Dan apa yang dilakukan VDS adalah praktek bagaimana seorang kiper mematahkan ‘The Game Theory’ lawan di lapangan. Cara mematahkannya adalah dengan menjalankan ‘The Game Theory’ versinya sendiri. Bila Chelsea melakukannya dengan mempelajari cara MU saat penalti sebelum pertandingan, maka VDS melakukannya saat pertandingan berlangsung.

Karena inti dari model teori ini adalah membuat sebuah analisa apa yang bakal terjadi selanjutnya. VDS melakukannya dengan membuat sebuah pertanyaan. Dan dia mendapatkan beberapa alternatif jawaban:

“Bila saya menghadapi seorang penendang kaki kanan, maka:

a) dia bakal menendang ke arah kiri, seperti yang dilakukan rekan-rekannya,

b) dia bakal menendang ke arah kanan, jika saya mampu mengarahkannya kesana.”

“Baiklah saya ambil jawaban b.”

Walaupun saya masih beranggapan andai kondisi cuaca saat itu tidak hujan yang membuat lapangan licin dan Terry tak akan pernah kepleset dan gagal dalam penalti, maka Chelsea lah pemenangnya.

Andai saja Huerta melakukan riset soal lapangan licin saat tendangan penalti… 

Related Posts
SELAMAT TAHUN BARU 2012!Begitu isi pesan singkat yang kita semua terima beberapa hari terakhir ini. Berpuluh pesan singkat masuk ke ponsel-pintar ini dalam hitungan menit di malam pergantian tahun. Beragam ...
READ MORE
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Seiring dengan berakhirnya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita tinggalkan sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta. Penulis-penulis roman sering berkata: Kita tidak bisa memilih kepada ...
READ MORE
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Ditulis oleh Adri Zainuddin.Sepakbola, permainan yang dimainkan oleh 22 orang pemain di dalam 1 lapangan. Tambah 1 orang wasit yang dibantu 2 hakim garis. Semua mengejar 1 bola yang sama. ...
READ MORE
Catatan ringan tentang pemanfaatan kelompok suporter sebagai kendaraan politik di Indonesia.Dalam tulisan sebelumnya penulis sudah memaparkan betapa perlunya klub untuk mengelola kelompok suporter mereka. Karena kelompok suporter itu ibarat para ...
READ MORE
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis tentang kondisi sepakbola Indonesia. Di suatu siang usai jam sekolah, di era Orde baru,  Saya dan beberapa teman SD Saya melihat rombongan pendukung salah satu ...
READ MORE
Jawaban apa yang akan anda berikan bila ditanya fungsi dari sebuah stadion sepakbola? Kita semua pasti sepakat bila disebut stadion adalah tempat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Tapi tahukah anda bahwa ...
READ MORE
Mengelola Komunitas Suporter
Sebuah catatan ringan betapa pentingnya kelompok suporter bagi sebuah klub dari segi marketing.Bagi penggemar otomotif, khususnya kendaraan beroda dua, kegiatan touring atau berkendara bersama-sama teman ke sebuah tempat yang belum ...
READ MORE
Perhelatan final sepakbola SEA Games semalam meninggalkan kesedihan yang teramat mendalam. 2 pendukung timnas tewas terinjak penonton lain saat hendak masuk ke dalam stadion Gelora Bung Karno.Untung tak dapat diraih, ...
READ MORE
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Beberapa hari yang lalu kami menghadiri sebuah seminar pemasaran bertajuk “Service With A Heart”. Tampil sebagai pembicara adalah Bapak Alex Mulya, praktisi marketing; dan Ibu Noni S.A. Purnomo, Vice President ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 1)
"IF YOU HAVE A BODY, YOU ARE AN ATHLETE"(Bila anda memiliki tubuh, maka anda adalah seorang atlet)Demikian Bill Bowerman, Nike co-founder, berkata. Kalimat ini berangkat dari observasi Bowerman - sebagai ...
READ MORE
Catatan Awal Tahun: 2011 Tahunnya Dualisme & Resolusi
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Kelompok Suporter Sebagai Kendaraan Politik
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
KEMANA HILANGNYA RASA AMAN ITU?
Mengelola Komunitas Suporter
Tragedi GBK.
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Nike Brand Activation (Part 1)