Nike Brand Activation (Part 1)

“IF YOU HAVE A BODY, YOU ARE AN ATHLETE”

(Bila anda memiliki tubuh, maka anda adalah seorang atlet)

Demikian Bill Bowerman, Nike co-founder, berkata. Kalimat ini berangkat dari observasi Bowerman – sebagai seorang pelatih lari – soal betapa besar dan tak terbatasnya potensi setiap orang di bidang olahraga.

Kalimat Bowermann di atas jelas terlihat dalam iklan Nike berikut:

   

Tak banyak merk apparel olahraga yang mampu melakukan seperti apa yang dilakukan Nike dalam mengkomunikasikan produknya. Bisa dibilang Nike adalah merk apparel pertama yang melakukan revolusi di kategorinya. Dan tulisan ini mencoba mengupas sedikit tentang bagaimana Nike membentuk dirinya hingga menjadi seperti sekarang.

Sejarah Singkat Awalnya Nike

Nike dibentuk pertama kali oleh 2 orang bernama Bill Bowerman dan Phil Knight dengan nama Blue Ribbon Sports. Mereka berdua bertemu tahun 1959 di University of Oregon di mana Boweman adalah pelatih lari dan Knight salah satu pelarinya. Bowerman berusaha mencari sepatu lari yang lebih ringan dan tahan lama untuk anak didiknya. Hal ini memicu Knight sebagai seorang mahasiswa jurusan bisnis untuk menyusun sebuah strategi marketing dalam mencari produk tersebut. Hingga kemudian Knight bertemu Frank Shallenberger, dosen bisnis S2-nya di kampus Stanford di awal tahun 60-an. Bersama Frank Shallenberger, Knight mencoba membentuk sebuah industri kecil yang mampu menciptakan sepatu seperti yang diinginkan Bowerman. Idenya adalah mencari distributor/pabrik sepatu murah yang punya kemampuan membuat sepatu dengan kualitas tinggi. Kemudian menjual sepatu tersebut secara massal. 

Awalnya Knight merasa pasar sepatu olahraga sangat sempit. Sebagai seorang yang suka lari dia berpikir tak banyak orang yang bakal membeli sepatu lari, kecuali atlet lari. Sehingga profit yang bakal dihasilkan bakal kecil. Namun tidak demikian dengan sang dosen. Shallenberger merasa ini adalah sebuah projek denga ide yang sangat menarik, walau dia sepakat soal profit yang kecil tadi. Beruntung berkat jiwa wiraswasta Knight, dia sepakat untuk mengembangkan projek ini lebih jauh.

Usai lulus S2-nya, Knight memutuskan untuk melakukan perjalanan keliling dunia.

Di tahun 1963 saat Knight sedang berada di Jepang, dia menemukan sebuah perusahaan pembuat sepatu lokal, Tiger – bagian dari Onitsuka Company. Singkat cerita, Knight yang kagum dengan kualitas dan murahnya harga jual sepatu Tiger, setuju untuk membeli hak distribusi Tiger di Amerika Serikat. Butuh waktu setahun untuk contoh sepatu Tiger sampai ke tangan Knight. Kemudian dia mengirim contoh tersebut ke Bowerman. Di luar dugaan Knight, Bowerman bukan hanya bersedia untuk memesan, tapi juga menawarkan dirinya untuk menjadi mitra kerja Knight. Selama tahun 1964, Knight berhasil menjual sepatu Tiger dengan total nilai penjualan sebesar USD 8,000 (Rp 76 juta!). Melihat antusias yang cukup besar, dia memesan lebih banyak sepatu ke pihak Tiger. Knight dan Bowerman kemudian mulai mempekerjakan orang tambahan di Blue Ribbon Sports

Di tahun 1971, Knight mulai merancang sebuah merk baru bernama Nike dengan logo swoosh-nya. Kala itu total penjualan Blue Ribbon Sports sudah mencapai total USD 1 juta (Rp 9.5 milyar!). Dan di akhir tahun 70-an, Blue Ribbon Sports resmi berganti nama menjadi Nike. Dan kala itu penjualan Nike sudah mencapai total nilai USD 270 juta (Rp 2.6 trilyun!). 

Related Posts
Fabio Capello, Bukan Orang Italia Biasa
Tulisan tentang Fabio Capello diambil dari biografinya yang ditulis oleh seorang jurnalis Italia bernama Gabrielle Marcotti berjudul ‘Capello - The Man Behind England’s World Cup Dream’. Inggris, Negara Kedua Setelah Italia "I ...
READ MORE
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti? Apa itu ‘The Game Theory’? Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan ...
READ MORE
Kabut Peperangan Yang Menutupi Old Trafford.
[image source: flickr/tcountryfan] Oksigen semakin menipis, dan bernafas pun, menjadi suatu hal yang sulit. Suara gemuruh memekakkan telinga. Genderang mulai ditabuh dan kabut peperangan semakin tebal. Semua yang berada di sana ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 2)
Ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang berjudul Nike Brand Activation (Part 1). Kampanye ‘Scorpion KO’ adalah salah satu dari Integrated Marketing Communicaitons (IMC) Nike yang melibatkan konsumen berinteraksi di dalamnya. ...
READ MORE
Jawaban apa yang akan anda berikan bila ditanya fungsi dari sebuah stadion sepakbola? Kita semua pasti sepakat bila disebut stadion adalah tempat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Tapi tahukah anda bahwa ...
READ MORE
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Beberapa hari yang lalu kami menghadiri sebuah seminar pemasaran bertajuk “Service With A Heart”. Tampil sebagai pembicara adalah Bapak Alex Mulya, praktisi marketing; dan Ibu Noni S.A. Purnomo, Vice President Business Development ...
READ MORE
Belanda vs Argentina, Piala Dunia 1974. [sumber: flickr]
Di era sepakbola modern ini, menurut saya ada 2 filosofi bermain yang cukup menonjol. Dan keduanya saling bertolak belakang. Yaitu filosofi yang dianut oleh Josep 'Pep' Guardiola (ball possession) dan ...
READ MORE
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Ditulis oleh Adri Zainuddin.Sepakbola, permainan yang dimainkan oleh 22 orang pemain di dalam 1 lapangan. Tambah 1 orang wasit yang dibantu 2 hakim garis. Semua mengejar 1 bola yang sama. ...
READ MORE
Mengukur Kesuksesan Keberadaan Klub ISL di Media Sosial
Di tulisan “Keberadaan 18 Klub ISL Musim 2012-2013 di Dunia Maya dan Media Sosial” tercatat klub Sriwijaya FC adalah klub dengan laman facebook resmi yang memiliki jumlah fans terbesar, yaitu ...
READ MORE
Elja Ngangkring, Bentuk Dukungan Nyata Fans Ke Klub.
Klub asal Yogyakarta, PSS Sleman membuka unit usaha baru yang disebut Elja Ngangkring pada Senin (2/9) malam lalu bertempat di jalan Damai, Sleman. Dalam siaran pressnya disebutkan bahwa Elja Ngangkring ...
READ MORE
Fabio Capello, Bukan Orang Italia Biasa
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Kabut Peperangan Yang Menutupi Old Trafford.
Nike Brand Activation (Part 2)
KEMANA HILANGNYA RASA AMAN ITU?
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Total Football 1974: Off The Ball Pressing
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Mengukur Kesuksesan Keberadaan Klub ISL di Media Sosial
Elja Ngangkring, Bentuk Dukungan Nyata Fans Ke Klub.