Naturalisasi, Benarkah Yang Terbaik?

2 orang pemuda blasteran Belanda-Indonesia, Diego Michiels dan Ruben Wuarbanaran, baru saja memperoleh kewarganegaraan Indonesia mereka setelah lulus dalam proses naturalisasi di kantor Kemenkumham beberapa hari yang lalu. Mereka berdua secara bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan membacakan Pancasila dengan lancar dalam Bahasa Indonesia. Setelah itu bahkan Ruben dalam akun twitter-nya menulis bahwa jantungnya berdetak kencang saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sebagian dari kita pasti merasa bangga dan berdecak kagum atas tulisannya di akun twitter tersebut.

Kita pasti akan merasa bangga setiap kali melihat seorang “bule” yang “rela” melakukan hal-hal yang berbau Indonesia. Misal: kita bangga saat melihat orang Amerika memakai batik, atau kita pasti bangga saat melihat orang Inggris memainkan angklung, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat kita bangga tiap kali melihat “bule” melakukan hal-hal yang berbau Indonesia.

Tapi dibalik semua kebanggaan kita tadi, pernahkah kita bertanya dalam hati bahwa tidakkah semua yang dilakukan para “bule” tadi (hanyalah) bersifat artifisial atau semu? Tidakkah apa yang mereka lakukan sama seperti apa yang Tantowi Yahya lakukan saat memakai seragam koboi, menggendong gitar dan bernyanyi lagu country? Atau tidakkah yang mereka lakukan tadi sama seperti saat almarhumah Ellya Khadam berbusana ala Bollywood dan menyanyikan lagu-lagu India? Apakah yang Tantowi Yahya atau almarhumah Ellya Khadam benar-benar mencintai Amerika atau India? Lebih jauh lagi, apakah benar-benar ada rasa Nasionalisme dalam hati mereka?

Mungkin pertanyaan terakhir tentang Nasionalisme tadi bisa jadi terlalu berlebihan. Terlebih bila dikaitkan dalam kasus kedua pemuda blasteran Indo-Belanda tadi, Diego Michiels dan Ruben Wuarbanaran, yang baru saja lulus proses naturalisasi di kantor Kemenkumham. Jangankan mereka, bila kita tanyakan kepada para penghuni timnas saat ini apakah ada rasa Nasionalisme di hati mereka, sepertinya para penghuni timnas bakal tersenyum dan geleng-geleng kepala saat menjawab. Apa sih hubungannya antara memiliki rasa Nasionalisme dengan menjadi seorang pesepakbola.

Menjadi seorang pesepakbola adalah pilihan profesi. Sama seperti seseorang memilih menjadi karyawan, supir, atau profesi lainnya. Bila seorang pesepakbola kemudian dipanggil oleh federasi (baca: PSSI) untuk membela tim nasional, itu adalah konsekuensi atas kinerja bagus yang diperlihatkannya selama ini. Dengan kata lain, dipanggil timnas bisa jadi adalah salah satu pencapaian terbaik dalam karir seorang pesepakbola. Tidak semua pesepakbola bisa menikmati hal ini, karena hanya yang terbaik yang akan mendapatkannya.

Pertanyaannya: apakah kedua pemuda blasteran Indo-Belanda tadi adalah yang terbaik? Tidak ada lagikah pesepakbola lokal yang layak disebut sebagai yang terbaik? Dan bagaimana cara PSSI menilai mereka? Atau jangan-jangan ini adalah cara gampang PSSI karena tidak mampu mencetak pesepakbola terbaik dari dalam negeri?

Tidakkah kita semua akan merasa lebih bangga bila suatu saat nanti ada seorang Wawan, Budi ataupun Paijo – nama-nama yang sangat Indonesia – dipanggil ke timnas atas kinerja mereka yang bagus di klub-klub besar liga Asia ataupun Eropa.

Dan kita pasti akan merasa jauh lebih bangga saat tahu mereka semua adalah produk pembinaan dalam negeri. Semoga ini menjadi kenyataan. Amiin.

6967807579_60ab99d726_z

sumber foto: flickr- aulia fitri

 
Related Posts
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Seiring dengan berakhirnya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita tinggalkan sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta. Penulis-penulis roman sering berkata: Kita tidak bisa memilih kepada ...
READ MORE
Mengelola Komunitas Suporter
Sebuah catatan ringan betapa pentingnya kelompok suporter bagi sebuah klub dari segi marketing.Bagi penggemar otomotif, khususnya kendaraan beroda dua, kegiatan touring atau berkendara bersama-sama teman ke sebuah tempat yang belum ...
READ MORE
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti? Apa itu ‘The Game Theory’? Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan ...
READ MORE
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis tentang kondisi sepakbola Indonesia. Di suatu siang usai jam sekolah, di era Orde baru,  Saya dan beberapa teman SD Saya melihat rombongan pendukung salah satu ...
READ MORE
Selamat Tahun Baru 2014!
Tak terasa kita saat ini sudah berada di tahun yang baru, 2014. 365 hari telah bersama kita lewati di tahun 2013. Dan semoga kita semua mendapatkan pembelajaran dan bisa menjadi ...
READ MORE
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Beberapa hari yang lalu kami menghadiri sebuah seminar pemasaran bertajuk “Service With A Heart”. Tampil sebagai pembicara adalah Bapak Alex Mulya, praktisi marketing; dan Ibu Noni S.A. Purnomo, Vice President Business Development ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 2)
Ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang berjudul Nike Brand Activation (Part 1). Kampanye ‘Scorpion KO’ adalah salah satu dari Integrated Marketing Communicaitons (IMC) Nike yang melibatkan konsumen berinteraksi di dalamnya. ...
READ MORE
Kisah Klub Yang Dibangun Dengan Persaudaraan, Bukan Dengan Uang
Akhir pekan lalu saya membaca kisah sebuah klub divisi 4 liga Rumania, ASF Fratia. Dikisahkan bahwa klub ini menerapkan persamaan dan menerima siapapun tanpa memperdulikan latar belakang, suku, agama, dan ...
READ MORE
Kabut Peperangan Yang Menutupi Old Trafford.
[image source: flickr/tcountryfan] Oksigen semakin menipis, dan bernafas pun, menjadi suatu hal yang sulit. Suara gemuruh memekakkan telinga. Genderang mulai ditabuh dan kabut peperangan semakin tebal. Semua yang berada di sana ...
READ MORE
Catatan ringan tentang pemanfaatan kelompok suporter sebagai kendaraan politik di Indonesia.Dalam tulisan sebelumnya penulis sudah memaparkan betapa perlunya klub untuk mengelola kelompok suporter mereka. Karena kelompok suporter itu ibarat para ...
READ MORE
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Mengelola Komunitas Suporter
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
Selamat Tahun Baru 2014!
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Nike Brand Activation (Part 2)
Kisah Klub Yang Dibangun Dengan Persaudaraan, Bukan Dengan
Kabut Peperangan Yang Menutupi Old Trafford.
Kelompok Suporter Sebagai Kendaraan Politik