Kelompok Suporter Sebagai Kendaraan Politik

Catatan ringan tentang pemanfaatan kelompok suporter sebagai kendaraan politik di Indonesia.

Dalam tulisan sebelumnya penulis sudah memaparkan betapa perlunya klub untuk mengelola kelompok suporter mereka. Karena kelompok suporter itu ibarat para petugas front-liners sebuah perusahaan. Bayangkan bila anda sedang melakukan transaksi perbankan di sebuah bank. Petugas bank yang akan melayani adalah teller, customer-service atau bagian marketing. Bila mereka berlaku sopan dan mau melayani semua permintaan dan pertanyaan, maka impresi yang anda dapatkan dari bank tersebut adalah positif. Tapi bila yang terjadi sebaliknya? Sudah pasti anda bakal kesal dan bukan tak mungkin anda bakal pindah ke bank lain. Oleh karena itu untuk memastikan para front-linernya tetap bagus, pihak Bank berkewajiban untuk menjaga kualitas para front-linernya. Bisa dengan mengadakan secara berkala program pelatihan, seminar atau workshop yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM.

Di tulisan sebelumnya (baca: Mengelola Komunitas Suporter), penulis menyebutkan bahwa: citra suporter dan klub bakal berbanding lurus dengan keuntungan/profit klub. Citra suporter = citra klub = keuntungan klub. Semakin baik citra, maka akan semakin baik pula keuntungan/profit klub. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui community-marketing.

Seperti yang dilakukan oleh Arsenal. Sejak 1985, Arsenal FC meluncurkan sebuah kegiatan yang dinamakan Arsenal in The Community. Komunitas yang menjadi sasarannya adalah yang berada di sekitaran Londong. Karena kebanyakan pendukung Arsenal adalah anak muda, maka mereka menjadi target utama. Kegiatan dalam program Arsenal in The Community tidak terbatas kepada hal-hal yang berhubungan dengan sepakbola. Misal: secara berkala Arsenal in The Community bakal menggelar pelatihan kepada pemuda putus sekolah dan pengangguran. Tujuan pelatihan adalah membuat mereka kembali bekerja atau menjadi mandiri. Ada juga kegiatan ke sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan antusias para murid dalam belajar.

Contoh lain adalah seperti yang terjadi baru-baru ini saat panitia Euro 2012 mengadakan seminar yang berkaitan dengan fans atau suporter sepakbola. Tujuan seminar ini adalah untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang fans atau suporter yang bakal datang ke Euro 2012 untuk mendukung negara mereka. Yang diundang ke seminar ini adalah para perwakilan fans atau suporter negara yang lolos ke putaran final Euro 2012 juga para panitia komite penyelenggara di tiap kota dan seluruh pihak yang berkepentingan seperti hotel, restauran dan tempat wisata. Melalui seminar ini nantinya diharapkan para perwakilan suporter bakal memberikan informasi mengenai kota-kota penyelenggara Euro 2012 kepada teman-teman suporter di negara mereka masing-masing. Dan buat para panitia komite penyelenggara, mereka bisa mendapatkan gambaran seperti apa karakter suporter dari setiap negara yang bakal datang saat penyelenggaraan Euro 2012. 

Lalu bagaimana kondisinya di Indonesia?

Saat penyelenggaraan LPI, ‘rebel-league’, (penulis sengaja pakai istilah ‘rebel’ karena tidak ada kelanjutan dari LPI dan saat itu mayoritas klub pesertanya bukan anggota resmi PSSI) kita semua sempat mendengar beberapa klub pesertanya melakukan kegiatan yang hampir mirip dengan Arsenal in The Community. Klub melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah dasar dan melakukan beberapa kegiatan kecil disana. Namun sepertinya tujuan klub-klub LPI tadi lebih bersifat untuk menciptakan awareness/kesadaran masyarakat ketimbang dalam rangka pembentukan citra klub ke kelompok suporter. Terlebih mayoritas klub LPI saat itu belum memiliki kelompok suporter. Ini adalah hal yang wajar mengingat kebanyakan klub-klub LPI baru saja berdiri atau dibentuk. Masyarakat lebih mengenal Arema ketimbang klub macam Bogor Raya atau Cendrawasih FC. Bahkan komunitas suporter Arema sudah terbentuk dengan sangat solid. Dan jumlah anggotanya bisa mencapai ribuan.

Namun bagaimana perlakuan mayoritas klub-klub besar di negeri ini kepada kelompok suporternya? Sangat jauh berbeda dengan apa yang dicontohkan oleh Arsenal dan Euro 2012 barusan. Kondisi dimana sebagian besar pengurus klub sepakbola di negeri ini merupakan pejabat pemerintah daerah dan anggota partai politik membuat kelompok suporter seringkali menjadi kendaraan politik dalam rangka menjaring suara untuk urusan politik mereka (baca: kekuasaan).

Apa yang terjadi di Arema IPL belakangan adalah kasus teranyar untuk menggambarkan secara jelas bagaimana seorang pejabat pemerintah daerah yang merangkap sebagai pengurus klub, sangat bernafsu dalam menjaring massa melalui kelompok suporter untuk kepentingan politik dirinya (baca: Konflik Arema IPL Akibat Kepentingan Politik). Menurut kabar yang beredar di media massa, Peni Suparto – walikota Malang yang juga menjabat sebagai ketua umum Persema Malang dan caretaker PSSI Jatim saat ini – sangat bernafsu untuk bisa menguasai Arema yang memilki basis suporter dengan jumlah massa yang sangat besar, Aremania. Dia mengklaim telah diberi mandat oleh Aremania untuk kuasai Arema. Padahal bila melihat posisinya sebagai walikota Malang dan bakal diselenggarakannys pemilihan walikota Malang tahun depan, bisa dipastikan ada motif politik dibalik niatannya dalam menguasai Arema.

Praktek yang terjadi di Arema IPL tadi bukan tidak mungkin terjadi di klub lain yang memiliki pengurus yang juga menjabat posisi di pemerintahan daerah. Terlebih bila pengurusnya juga anggota partai politik, maka bisa dipastikan bahwa kelompok suporter klub bakal dikerahkan saat kegiatan kampanye. Mulai dari sekedar untuk meramaikan kegiatan hingga diminta untuk memberikan suaranya kepada calon yang sedang bertarung dalam pilkada.

Satu hal yang patut disyukuri adalah mulai adanya kesadaran dari kelompok suporter untuk tidak lagi mau dijadikan kendaraan politik. Dalam kasus kisruh Arema IPL, mayoritas Aremania secara kompak dan bulat menolak adanya kepentingan politik dalam kisruh internal klub mereka (baca: Aremania: Jauhkan Arema dari Politik

“Arema sudah pecah jadi dua, Arema IPL dan Arema ISL. Mengapa sekarang Arema IPL mau dipecah juga,” keluh korwil Aremania karangploso (Karlos) Lopez di luar stadion Stadion Gajayana, Sabtu (11/02/2012), sebagaimana penulis mengutip dari artikel di kompasbola.

Semoga saja kesadaran yang terbentuk pada ‘nawak-nawak’ Aremania bakal menyebar ke kelompok suporter lainnya. Semoga.

Related Posts
SELAMAT TAHUN BARU 2012!Begitu isi pesan singkat yang kita semua terima beberapa hari terakhir ini. Berpuluh pesan singkat masuk ke ponsel-pintar ini dalam hitungan menit di malam pergantian tahun. Beragam ...
READ MORE
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Seiring dengan berakhirnya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita tinggalkan sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta. Penulis-penulis roman sering berkata: Kita tidak bisa memilih kepada ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 2 – Final)
 Ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang berjudul Nike Brand Activation (Part 1).Kampanye ‘Scorpion KO’ adalah salah satu dari Integrated Marketing Communicaitons (IMC) Nike yang melibatkan konsumen berinteraksi di ...
READ MORE
Perhelatan final sepakbola SEA Games semalam meninggalkan kesedihan yang teramat mendalam. 2 pendukung timnas tewas terinjak penonton lain saat hendak masuk ke dalam stadion Gelora Bung Karno.Untung tak dapat diraih, ...
READ MORE
Jawaban apa yang akan anda berikan bila ditanya fungsi dari sebuah stadion sepakbola? Kita semua pasti sepakat bila disebut stadion adalah tempat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Tapi tahukah anda bahwa ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 1)
"IF YOU HAVE A BODY, YOU ARE AN ATHLETE"(Bila anda memiliki tubuh, maka anda adalah seorang atlet)Demikian Bill Bowerman, Nike co-founder, berkata. Kalimat ini berangkat dari observasi Bowerman - sebagai ...
READ MORE
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Ditulis oleh Adri Zainuddin.Sepakbola, permainan yang dimainkan oleh 22 orang pemain di dalam 1 lapangan. Tambah 1 orang wasit yang dibantu 2 hakim garis. Semua mengejar 1 bola yang sama. ...
READ MORE
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Beberapa hari yang lalu kami menghadiri sebuah seminar pemasaran bertajuk “Service With A Heart”. Tampil sebagai pembicara adalah Bapak Alex Mulya, praktisi marketing; dan Ibu Noni S.A. Purnomo, Vice President ...
READ MORE
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis tentang kondisi sepakbola Indonesia. Di suatu siang usai jam sekolah, di era Orde baru,  Saya dan beberapa teman SD Saya melihat rombongan pendukung salah satu ...
READ MORE
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti? Apa itu ‘The Game Theory’? Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan ...
READ MORE
Catatan Awal Tahun: 2011 Tahunnya Dualisme & Resolusi
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Nike Brand Activation (Part 2 – Final)
Tragedi GBK.
KEMANA HILANGNYA RASA AMAN ITU?
Nike Brand Activation (Part 1)
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti