Kabut Peperangan Yang Menutupi Old Trafford.

[image source: flickr/tcountryfan]

Oksigen semakin menipis, dan bernafas pun, menjadi suatu hal yang sulit. Suara gemuruh memekakkan telinga. Genderang mulai ditabuh dan kabut peperangan semakin tebal. Semua yang berada di sana tak luput dari kebingungan. Ini bukan situasi di dalam sebuah medan perang, Ini adalah situasi di koridor-koridor sempit yang menyusuri Old Trafford.  Namun, bagi David Moyes bisa jadi ini tak ada bedanya. Setiap langkah yang dijalaninya sekarang semakin hati-hati, karena setiap langkah yang diambilnya bisa saja memicu ranjau yang dapat meledak setiap saat.

Musim premier league 2013-14 sudah berjalan 6 pertandingan. Di saat semua pesaingnya di Premier League seperti Arsenal, Chelsea, Liverpool dan tetangga sebelahnya Manchester City memetik hasil yang bagus sampai lumayan, Manchester United menjalaninya dengan buruk. 2 kali menang, 1 kali seri dan 3 kali kalah. 7 poin dari 6 pertandingan. Start terburuk United dalam 24 tahun terakhir. Para penggemar klub yang dijuluki setan merah ini mulai menggelontorkan berbagai alasan kenapa Manchester United lebih terlihat sebagai tim yang baru naik dari Championship ketimbang sebagai juara bertahan Premier League.

Salah satunya, adalah David Moyes yang kepemimpinannya di puncak komando Manchester United banyak diragukan orang. Bekas pemimpin skuad biru kota Liverpool ini datang dengan ambisi untuk membawa United kembali jadi kampiun sepakbola di daratan Inggris. Dia pun merombak secara total staf kepelatihan dengan membawa staf kepelatihan sendiri dari Everton untuk memenuhi ambisi tersebut. Nama-nama familiar seperti Rene Meulensteen, Mick Phelan dan Eric Steele berganti menjadi Steve Round dan (mungkin nama yang tak asing bagi para fans United) Phil Neville yang didaulat sebagai Asisten dan Pelatih Tim Utama. Era baru untuk Manchester United kini secara resmi dimulai setelah kepemimpinan Sir Alex yang bisa diperdebatkan sebagai salah satu rezim terlama dan terbaik di dunia sepakbola.

Ketika datang di tahun 1986 ke Manchester dari Aberdeen, Alex Ferguson baru saja  memulai sebuah visi untuk merevitalisasi United. Dia mungkin tak akan menyangka visi itu akan mendorongnya untuk bercokol selama itu di United, memberikan klub itu kekuatan untuk melewati medan perang dan menjadi kampiun di setiap kesempatan. Mungkin, kemenangan demi kemenangan yang diberikan Sir Alex sepanjang masa baktinya membutakan satu fakta menarik. 4 tahun pertama sebagai manajer, Sir Alex senantiasa hidup dalam kecemasan karena tak kunjung mendapatkan gelar bagi United. Dibombardir oleh banner dan spanduk yang selalu mengingatkan dirinya bahwa dia tak cukup pantas untuk duduk di kursi panas Old Trafford ketika itu tak bisa dikatakan sebagai pemicu semangat untuk mendapatkan gelar yang tak kunjung datang. Hingga satu malam di Wembley, Alex Ferguson mengangkat trophy FA pertamanya dan kabut perang itu pun mulai memudar.

Moyes pun sekarang berada di tengah-tengah hujan bom yang mengatakan dirinya harus keluar dari Old Trafford. “Moyes Out!” teriak para fans yang berada di tribun. “Moyes Out!” juga diteriakkan oleh mereka yang menonton United bermain dengan buruk ketika melawan West Bromwich Albion minggu lalu. “Moyes Out!!” dilontarkan dengan lebih lantang lagi di media sosial seperti twitter dan facebook, tak lupa men-tag atau mention akun official Manchester United yang sepertinya tak bisa bergeming. Menanggapi yel-yel peperangan para fans terhadap Moyes dengan keheningan.

Moyes mengatakan satu hal yang menarik ketika wawancara post-match melawan WBA. Dengan sigap dia mengatakan bahwa dalam pertandingan itu, para pemain tak bermain cukup bagus, tak hanya dalam pertahanan namun juga di setiap lini. Dari pernyataan itu, satu hal yang mungkin dapat ditangkap oleh kuping para fans adalah bla bla bla dan bla. Seperti peluru yang melesat diantara mortar yang meledak di segala penjuru, kata-kata Moyes menjadi tak penting untuk didengarkan. Mungkin itu yang terjadi di dalam lapangan pertandingan ketika itu. Seolah kehilangan pimpinan regu di dalam baku tembak, tak ada lagi seseorang di pinggir lapangan yang berteriak sambil mengunyah permen karet.

Kabut perang adalah sesuatu yang terjadi ketika peperangan semakin sengit. Para serdadu tak tahu apa yang harus dilakukan, sementara para Jendral juga memberikan komando yang tak dapat dimengerti oleh anggota pasukannya. Perintah untuk mundur menjadi “maju!” dan perintah untuk terus maju menjadi “tahan posisi!”. Kawan mulai terlihat sebagai lawan. Pengambilan keputuan untuk menembak atau menahan bola menjadi tak jelas. Permainan kolektif runtuh dan permainan individual menjadi harapan walaupun para prajurit tahu itu tak akan menghasilkan apa-apa. Keragu-raguan melanda semua yang berada di lapangan.

Kesalahan taktis mendasar yang diperlihatkan Moyes (seperti mengeluarkan Kagawa terlalu cepat dan memasukkan Nani secara terlambat) dan para pemain United di pertandingan melawan WBA juga mungkin dapat menjadi bukti seberapa tebal kabut perang yang menutupi rumput Old Trafford. Semua orang melemparkan bom tanpa menghiraukan kabut yang semakin menebal di atas lapangan.

Sebagai pemimpin tertinggi pasukan setan merah, Moyes harus mulai bisa melihat melalui kabut tersebut. Memegang kendali atas pasukannya yang mulai terlihat bermain tanpa arah, menyerbu tanpa sebab dan seringkali menanggung akibat dari counter attack cepat yang dimainkan lawan. Permainan cepat yang dimainkan dengan garis pertahanan yang naik hingga lapangan tengah pun harus bisa diaplikasikan dengan sempurna, memainkan pemain belakang yang dapat dengan cepat beradaptasi terhadap perubahan tempo, tanpa cela. Moyes harus mampu melihat melalui kabut tersebut dan memberikan pasukannya sebuah tujuan, sebuah “purpose” kenapa mereka harus mengeluarkan dan memberikan semua yang terbaik baginya. Bagi klub. Bagi para fans.

Tekanan fans yang begitu besar terhadap Moyes jangan dilihat sebagai bentuk ketidaksukaan fans terhadap Moyes. Ini adalah Manchester United. Siapapun yang menjadi “Gaffer”, akan merasakan tebalnya kabut perang itu. Apalagi bila hasil yang didapatkan tak seperti yang diharapkan oleh fans. Fans berekspektasi setinggi itu karena sejarah dan perjalanan panjang United di bawah “Gaffer” sebelumnya. Ini saatnya Moyes memperlihatkan kenapa dia layak dipilih untuk menduduki jabatan itu dan menyibak kabut yang tak akan pernah sepenuhnya hilang di Old Trafford.

Related Posts
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Ditulis oleh Adri Zainuddin.Sepakbola, permainan yang dimainkan oleh 22 orang pemain di dalam 1 lapangan. Tambah 1 orang wasit yang dibantu 2 hakim garis. Semua mengejar 1 bola yang sama. ...
READ MORE
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti? Apa itu ‘The Game Theory’? Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan ...
READ MORE
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis tentang kondisi sepakbola Indonesia. Di suatu siang usai jam sekolah, di era Orde baru,  Saya dan beberapa teman SD Saya melihat rombongan pendukung salah satu ...
READ MORE
Catatan ringan tentang pemanfaatan kelompok suporter sebagai kendaraan politik di Indonesia.Dalam tulisan sebelumnya penulis sudah memaparkan betapa perlunya klub untuk mengelola kelompok suporter mereka. Karena kelompok suporter itu ibarat para ...
READ MORE
Kisah Klub Yang Dibangun Dengan Persaudaraan, Bukan Dengan Uang
Akhir pekan lalu saya membaca kisah sebuah klub divisi 4 liga Rumania, ASF Fratia. Dikisahkan bahwa klub ini menerapkan persamaan dan menerima siapapun tanpa memperdulikan latar belakang, suku, agama, dan ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 1)
"IF YOU HAVE A BODY, YOU ARE AN ATHLETE" (Bila anda memiliki tubuh, maka anda adalah seorang atlet) Demikian Bill Bowerman, Nike co-founder, berkata. Kalimat ini berangkat dari observasi Bowerman - sebagai ...
READ MORE
Selamat Tahun Baru 2014!
Tak terasa kita saat ini sudah berada di tahun yang baru, 2014. 365 hari telah bersama kita lewati di tahun 2013. Dan semoga kita semua mendapatkan pembelajaran dan bisa menjadi ...
READ MORE
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Seiring dengan berakhirnya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita tinggalkan sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta. Penulis-penulis roman sering berkata: Kita tidak bisa memilih kepada ...
READ MORE
Naturalisasi, Benarkah Yang Terbaik?
2 orang pemuda blasteran Belanda-Indonesia, Diego Michiels dan Ruben Wuarbanaran, baru saja memperoleh kewarganegaraan Indonesia mereka setelah lulus dalam proses naturalisasi di kantor Kemenkumham beberapa hari yang lalu. Mereka berdua ...
READ MORE
Jawaban apa yang akan anda berikan bila ditanya fungsi dari sebuah stadion sepakbola? Kita semua pasti sepakat bila disebut stadion adalah tempat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Tapi tahukah anda bahwa ...
READ MORE
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Tendang Politisi Dari Sepakbola Indonesia
Kelompok Suporter Sebagai Kendaraan Politik
Kisah Klub Yang Dibangun Dengan Persaudaraan, Bukan Dengan
Nike Brand Activation (Part 1)
Selamat Tahun Baru 2014!
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Naturalisasi, Benarkah Yang Terbaik?
KEMANA HILANGNYA RASA AMAN ITU?