Jose Mourinho: The Special One.

Veni, vidi, vici. I came, I saw, I conquered. Aku datang, aku lihat, aku menang.

Begitu Julius Caesar pernah berkata usai pertempuran Zela. Kala itu Julius Caesar hendak menyampaikan pesan kepada para anggota senat Roma bahwa dia baru saja memenangkan sebuah pertempuran secara mutlak. Dengan kekuatan militernya, Julius Caesar sukses memperluas kekuasaannya dengan menaklukan banyak daerah. Daerah kekuasannya tak hanya terpusat di Roma dan Eropa. Tapi juga tersebar hingga ke Asia dan Afrika. Kemudian sejarah mencatat bahwa Julius Caesar adalah seorang kaisar terbesar dalam kekaisaran Romawi.

Dari sudut pandang kesuksesan diatas, banyak orang menyamakan seorang Jose Mourinho dengan Julius Caesar. Bila Julius Caesar terkenal karena luasnya daerah kekuasannya, maka Mou lebih dikenal karena kesuksesannya dalam menangani beberapa klub eropa. Hingga kini sudah 4 liga domestik berbeda di eropa sudah berhasil dijuarainya. Liga Portugal, Liga Inggris, Liga Italia dan terakhir Mou memastikan dirinya adalah ‘raja’ di Liga Spanyol bersama Real Madrid.

Lalu apa yang menjadi kunci sukses Mou sebagai seorang manajer klub?

Bila Julius Caesar sukses memperluas daerah kekuasaannya dengan kekuatan militer, maka kesuksesan Mou terletak pada keperduliannya pada hal-hal yang sangat detil. Dia sangat mengandalkan perencanaan yang matang. Metode pelatihannya pun berdasarkan pada “sport-science”. Selain itu dia juga terkenal sangat perduli pada data statistik. Hal yang tidak mengherankan mengingat Mou adalah lulusan Universitas Teknik Lisbon dengan mengambil konsentrasi sport-science.

Saat muda Mou bahkan terbiasa melakukan scouting tim calon lawan klub ayahnya bermain. Ayahnya, Felix Mourinho, adalah seorang kiper. Bukan hanya melakukan scouting, Mou juga melakukan observasi metode latihan klub ayahnya.

Kebiasaan scouting ini dilanjutkan saat dia menangani Chelsea. Mou selalu meminta data statistik calon lawan bertandingnya. Dan orang yang dipercaya untuk melakukan hal ini adalah Andre Villas-Boas.

Kepeduliannya pada hal detil ditunjukkan kala Mou menjalani latihan pra-musim di Benfica, dia mencamtumkan hasil laporan latihannya dengan sangat detil dan terstruktur di website resmi klub. Hal yang tak pernah dilakukan klub Portugal sebelumnya. Laporannya tersebut dicantumkan dengan memakai bahasa yang baik dan benar. Misal: laporan tentang hasil lari jogging 20 km ditulis dengan “extended aerobic exercise”. Menggunakan bahasa yang baik dan benar sebetulnya sudah dia lakukan sejak menjadi penerjemah bagi Bobby Robson saat melatih Benfica dan Barcelona. Kala itu tugas Mou selain menjelaskan hal-hal teknis kepada pemain yang tak mampu berbahasa Inggris tentang apa yang diinginkan Robson, juga menjelaskan kembali perkataan Robson saat jumpa pers ke media. Bisa dibayangkan andai Mou salah dalam memilih kata, maka media bakalan salah dalam mengutip pernyataan Robson.

Perkenalannya dengan Robson membuat dia terlibat dalam diskusi taktik, metode latihan dan hal-hal teknis sepakbola lainnya. Bahkan Robson mengajak kembali Mou ke Barcelona usai masa jabatannya di Benfica. Kemudian di Barcelona Mou kembali menjadi penerjemah buat Louis Van Gaal. Bila Robson adalah tipe manajer praktikal, maka Van Gaal adalah kebalikannya. Dia sangat mengedepankan perlunya perencanaan secara detil dalam manajemen klub.

Di 2 musim pertamanya bersama Barcelona – 1997 sampai dengan 1999 – Van Gaal sukses meraih trofi juara. Dan Mou adalah bagian dari manajerial Van Gaal. Mereka berdua terlibat dalam perencanaan tim. Mulai dari metode latihan, taktik dan strategi hingga gaya bermain tim maupun perorangan. Mou tak lagi sekedar seorang penerjemah. Tapi dia sudah berkembang menjadi seorang pelatih profesional. Melihat bakat yang luar biasa dalam diri Mou dalam hal manajerial dan kepelatihan, Van Gaal mempercayakan Mou untuk memegang Barcelona B secara langsung dan mandiri. Makanya tak heran bila di kemudian hari yang pertama kali dihubungi manajemen Barcelona sebagai pengganti Rijkaard adalah Mou, bukan Guardiola. Kepribadian “pemberontak” Mou-lah yang membuat Barcelona lebih memilih Guardiola.

Kepribadian “pemberontak’ ini bisa diartikan sebagai sifat tak mudah diatur atau tak mudah menyerah. Sejak kecil Mou adalah seorang anak yang terkenal dengan sifat tak mau kalah. Dia adalah anak yang sangat kompetitif. Adalah ibunya yang selalu mendorongnya agar tak mudah putus asa dalam setiap hal yang Mou kerjakan.

Saat remaja Mou merasa takkan mampu bersaing untuk menjadi pemain professional. Kemudian Mou terpikir untuk menjadi seorang pelatih sepakbola secara professional. Mengetahui hal ini, ibunya mendaftarkannya masuk sebuah sekolah binis dengan tujuan untuk memenuhi keinginan anaknya. Namun takdir berkata lain. Mou memilih keluar dan belajar sport-science.

Kini setelah berhasil menjadi manajer pertama yang berhasil juara liga domestik di 4 negara berbeda, entah rencana apalagi yang ada di kepala Mou. Yang jelas dia tidak akan berhenti disini. Dan kita pasti masih bakal melihat Mou mengangkat trofi juara di masa akan datang. Entah bersama klub di Jerman, Belanda atau Perancis. Atau malahan di luar eropa.

‘Please don’t call me arrogant, but I’m European champion and I think I’m a special one’ – Jose Mourinho


(dikutip dari berbagai sumber di internet)