Catatan Awal Tahun: 2011 Tahunnya Dualisme & Resolusi 2012

SELAMAT TAHUN BARU 2012!

Begitu isi pesan singkat yang kita semua terima beberapa hari terakhir ini. Berpuluh pesan singkat masuk ke ponsel-pintar ini dalam hitungan menit di malam pergantian tahun. Beragam pesan singkat yang berisi rangkaian kata indah dalam menyambut 2012 dengan penuh suka-cita dan pengharapan bahwa di tahun baru ini kita semua makin sukses.

Menentukan sebuah komitmen atau tujuan yang hendak dicapai di tahun yang baru adalah juga sesuatu yang sering kita lakukan menjelang pergantian tahun. Sering kita menyebut sebagai resolusi tahun baru. Dan sebelum kita membuat resolusi tersebut biasanya kita terlebih dahulu melihat ke belakang, yaitu ke tahun yang akan segera kita lewati. Hal-hal apa saja yang belum kita capai selama kemarin, maka biasanya akan kita jadikan resolusi di tahun baru.

Sekarang mari kita bersama melihat kondisi sepakbola kita di tahun 2011.

Kejadian terbesar dan banyak di syukuri oleh banyak penggila sepakbola di tahun 2011 adalah jatuhnya seorang Nurdin Halid dari kursi ketua umum PSSI. Tak bisa dipungkiri bahwa Nurdin Halid adalah sosok yang lihai dalam memutarbalikkan segala fakta. Sekalipun fakta tersebut bertentangan dengan aturan atau hukum yang berlaku. Misal, saat dia dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas keterlibatannya dalam kasus tindak pidana korupsi distribusi minyak goreng. Menurut statuta FIFA, seorang kriminal tidalklah boleh menjabat sebagai ketua umum federasi. Namun dengan segala kelihaiannnya, Nurdin Halid membohongi publik negeri ini dengan mengganti statuta PSSI yang awalnya berbunyi: ‘harus tidak pernah terlibat kasus kriminal’ menjadi ‘harus tidak sedang terlibat kasus kriminal’. Dengan begini Nurdin Halin kembali bisa mencalonkan diri menjadi ketua umum PSSI. Dan perubahan statuta PSSI tadi tak pernah dia laporkan ke FIFA.

Harapan besar banyak digantungkan pada sosok baru ketua umum PSSI, Djohar Arifin Husein, yang terpilih melalui mekanisme voting. Walaupun harus menghadapi beberapa figur yang sebelumnya diyakini bisa merebut kursi PSSI-1, Djohar Arifin mampu mememnagi voting yang dilakukan hingga 2 putaran. Di putaran kedua Djohar Arifin mengalahkan Agusman Effendi. Djohar Arifin sosok yang sudah tak asing lagi di dunia olahraga dan sepakbola Indonesia adalah mantan pesepakbola nasional di era 70an. Pernah juga menjadi wasit nasional dan internasional. Lama berkecimpung dan terlibat di organisasi olahraga seperti KONI Sumut, PSSI Sumut hingga menjadi staf ahli Menpora. Dengan rekam-jejak seperti ini, Djohar dianggap sebagai orang yang tepat untuk mengubah PSSI dan peta olahraga sepakbola Indonesia.

Namun apa yang terjadi beberapa bulan setelah Djohar Arifin menjadi PSSI-1 sepertinya diluar harapan kita semua. Sesaat setelah PSSI mengumumkan bakal bergulirnya liga yang baru, Indonesian Premiere League (IPL), banyak klub-klub yang sebagian besar adalah ‘alumni’ liga sebelumnya memutuskan hengkang dan tetap memilih berada dalam pangkuan PT Liga Indonesia yang sebetulnya sudah dihapuskan oleh PSSI. Kasus lainnya adalah maraknya kemunculan kembaran klub-klub yang selama ini publik kenal. Sebut saja Persija. Saat ini ada istilah Persija ISL dan Persija IPL. Walaupun bagi sebagian besar pendukung Persija ISL, Persija IPL adalah tak lain Jakarta FC, mantan peserta LPI. Belakangan kita juga mendengar Arema ISL dan Arema IPL. 

Fenomena diatas adalah fenomena yang lazim kita sebut sebagai dualisme. Dualisme liga. Dualisme kepengurusan klub.

Tulisan ini bukan hendak membahas terlalu dalam soal apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus dualisme tadi. Kita semua bisa membaca, melihat dan mendengarnya lewat berita yang beredar di media masa. Dan silahkan pembaca memiliki pendapat masing-masing tentangnya.

Kita semua bisa merasakan bahwa dalam konflik dualisme ini ada 2 kubu besar yang sedang bertikai secara hebat. Mempertahankan pendapat dan argumen, saling serang dan melemahkan adalah sajian utama dalam drama dualisme ini. Dan tanpa disadari kondisi ini mulai ‘menular’ ke kalangan suporter.

Ya. Suporter pun akhirnya terbelah menjadi dua. Tanpa harus menyebut siapa saja mereka, kita semua bisa melihat hal ini. Dan pemandangan dualisme suporter ini paling mudah dilihat di dunia maya. Di forum, sosial media seperti twitter dan facebook, setiap hari pasti ada perbincangan yang isinya hampir sama seperti yang sudah dipaparkan diatas. Saling pertahankan pendapat dan argumen masing-masing, saling serang dan melemahkan pihak-pihak yang dianngap berbeda pendapat. Bahkan tak jarang kalimat yang dipakai sudah menjurus kata-kata kasar yang tak lagi mencerminkan sebuah bangsa yang (katanya) terkenal ramah dan santun.

Entah sampai kapan kondisi dualisme liga, klub dan suporter ini masih bakal berlangsung. 

Jadi resolusi apa yang pantas kita buat untuk sepakbola Indonesia di tahun 2012? Sepertinya kita semua sudah tahu apa jawabnya.

Related Posts
Nike Brand Activation (Part 1)
"IF YOU HAVE A BODY, YOU ARE AN ATHLETE"(Bila anda memiliki tubuh, maka anda adalah seorang atlet)Demikian Bill Bowerman, Nike co-founder, berkata. Kalimat ini berangkat dari observasi Bowerman - sebagai ...
READ MORE
Perhelatan final sepakbola SEA Games semalam meninggalkan kesedihan yang teramat mendalam. 2 pendukung timnas tewas terinjak penonton lain saat hendak masuk ke dalam stadion Gelora Bung Karno.Untung tak dapat diraih, ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 2 – Final)
 Ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya yang berjudul Nike Brand Activation (Part 1).Kampanye ‘Scorpion KO’ adalah salah satu dari Integrated Marketing Communicaitons (IMC) Nike yang melibatkan konsumen berinteraksi di ...
READ MORE
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
Seiring dengan berakhirnya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita tinggalkan sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta. Penulis-penulis roman sering berkata: Kita tidak bisa memilih kepada ...
READ MORE
Jawaban apa yang akan anda berikan bila ditanya fungsi dari sebuah stadion sepakbola? Kita semua pasti sepakat bila disebut stadion adalah tempat menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Tapi tahukah anda bahwa ...
READ MORE
Mengelola Komunitas Suporter
Sebuah catatan ringan betapa pentingnya kelompok suporter bagi sebuah klub dari segi marketing.Bagi penggemar otomotif, khususnya kendaraan beroda dua, kegiatan touring atau berkendara bersama-sama teman ke sebuah tempat yang belum ...
READ MORE
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Ditulis oleh Adri Zainuddin.Sepakbola, permainan yang dimainkan oleh 22 orang pemain di dalam 1 lapangan. Tambah 1 orang wasit yang dibantu 2 hakim garis. Semua mengejar 1 bola yang sama. ...
READ MORE
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Benarkah seorang kiper berada dalam kondisi tak berdaya saat tendangan penalti? Apa itu ‘The Game Theory’? Di bulan Mei 2010, seorang akademisi dari Universitas New York bernama Bruce Bueno de Mesquita meramalkan ...
READ MORE
Catatan ringan tentang pemanfaatan kelompok suporter sebagai kendaraan politik di Indonesia.Dalam tulisan sebelumnya penulis sudah memaparkan betapa perlunya klub untuk mengelola kelompok suporter mereka. Karena kelompok suporter itu ibarat para ...
READ MORE
Benarkah Konsumen Adalah Raja?
Beberapa hari yang lalu kami menghadiri sebuah seminar pemasaran bertajuk “Service With A Heart”. Tampil sebagai pembicara adalah Bapak Alex Mulya, praktisi marketing; dan Ibu Noni S.A. Purnomo, Vice President ...
READ MORE
Nike Brand Activation (Part 1)
Tragedi GBK.
Nike Brand Activation (Part 2 – Final)
Sepakbola Dan Jatuh Cinta
KEMANA HILANGNYA RASA AMAN ITU?
Mengelola Komunitas Suporter
Sepakbola Ini Tak Masuk Akal
Peran ‘The Game Theory Model’ Dalam Tendangan Penalti
Kelompok Suporter Sebagai Kendaraan Politik
Benarkah Konsumen Adalah Raja?